Peserta PKA dan PKP Asal Bartim Ikuti Ceramah dan Pengarahan Wamendagri di Yogyakarta

Wamendagri Bima Arya Sugiarto

Yogyakarta – Peserta Pelatihan Kepemimpinan Administrator (PKA) dan Pelatihan Kepemimpinan Pengawas (PKP) asal Kabupaten Barito Timur mengikuti ceramah dan pengarahan Wakil Menteri Dalam Negeri, Bima Arya Sugiarto, di PPSDM Regional Yogyakarta, Jumat (28/8/2025). Dalam arahannya, Wamendagri menegaskan bahwa aparatur sipil negara (ASN) tidak boleh sekadar mengejar jabatan, melainkan harus menghadirkan makna dalam setiap langkah pengabdian. Menurut Bima, hidup harus berarti, apapun profesi yang dijalani. Ia mencontohkan banyak pegawai yang berambisi menjadi pejabat, bahkan kepala dinas, meski tidak memiliki keterampilan memadai. Padahal, kata dia, ASN yang benar-benar hebat adalah mereka yang tidak hanya bermental petarung, tetapi juga memiliki keterampilan dan kapasitas yang mumpuni.

“Know your limits, know your potentials. Kita harus tahu batas kemampuan sekaligus potensi yang dimiliki. ASN dituntut untuk terus meningkatkan kualitas diri agar bisa bersaing, bekerja cepat, dan tepat,” ujar Bima. Berdasarkan pengalamannya sebagai kepala daerah, ia sering menjumpai berbagai tipe ASN. Ada yang loyal, ada yang memilih cuci tangan, dan ada pula yang lihai memainkan peran seperti gerakan ‘tai chi’. Dari ketiganya, Bima menekankan bahwa loyalitas adalah nilai utama. Namun, loyalitas yang dimaksud bukan hanya kepada pimpinan, melainkan juga kepada masyarakat luas. “ASN harus berpihak kepada guru, dokter, tenaga kesehatan, kaum duafa, dan kelompok minoritas. Dengan keberpihakan seperti itu, kerja kita akan membawa berkah, bukan hanya untuk diri sendiri, tapi juga bagi semua orang,” tegasnya. Ia juga mengingatkan agar ASN tidak terjebak pada rutinitas seremonial dan kepentingan transaksional. Menurutnya, banyak pejabat terperangkap dalam aktivitas yang tampak sibuk, tetapi justru menjauh dari substansi pelayanan publik. “Jangan sibuk dengan seremoni, tapi abai pada tugas kedinasan,” kata Bima.

Dalam mengelola hubungan dengan pimpinan, Bima menekankan pentingnya bekerja secara cerdas, adaptif, dan penuh inisiatif, layaknya kecerdasan buatan (AI). ASN, menurutnya, bukanlah robot yang sekadar menjalankan perintah, melainkan harus mampu memberi solusi dan membaca arah perubahan. Ia juga menyoroti pentingnya momentum dalam kehidupan birokrasi. ASN, kata dia, harus memiliki kemampuan menciptakan, menjemput, dan memanfaatkan momentum, agar tidak tertinggal dalam laju perubahan. “Hidup adalah momentum. Kita harus selaras dengan kecepatan zaman jika ingin sukses,” ujarnya. Lebih jauh, Bima memperkenalkan konsep “matrix inovasi”, yaitu kerangka berpikir yang menekankan pentingnya meningkatkan semangat perubahan dan sikap altruistik, sekaligus menekan egoisme dan kecenderungan bertahan di zona nyaman. Menutup arahannya, Bima mengajak peserta pelatihan untuk tidak berjalan sendiri, melainkan bersama-sama membangun birokrasi yang lebih baik. “Mari kita berpikir dan bergerak bersama, demi kebaikan bersama,” katanya. (Cak).

 215 total,  215 kali dibaca hari ini

Warta Terkait

Leave a Comment

3 × one =