
TAMIANG LAYANG — Upaya mencegah kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Kabupaten Barito Timur diperkuat melalui sosialisasi yang digelar Tim Pencegahan Karhutla Mabes TNI AD, Selasa (15/9/2026). Selain memperkuat kesiapsiagaan pemerintah dan aparat, kegiatan tersebut menekankan pentingnya keterlibatan masyarakat dalam mencegah munculnya sumber api.
Tim Mabes TNI AD yang berjumlah 30 orang dipimpin Brigjen TNI Zulkifli, S.I.P., M.A.P., M.M. Sosialisasi berlangsung di Ruang Rapat Bupati Barito Timur dan dihadiri Bupati Barito Timur M. Yamin, Wakil Bupati Adi Mula Nakalelu, jajaran Forkopimda, Komandan Yonif TP 924/Uria Mapas beserta jajaran, Sekretaris Daerah Misnohartaku, para Asisten dan Staf Ahli Bupati, kepala OPD, camat, pimpinan perusahaan pertambangan dan perkebunan, Dewan Adat Dayak, kepala desa, pengamat lingkungan serta unsur organisasi masyarakat dan elemen lainnya.

Sebelum sosialisasi dimulai, rombongan Mabes TNI AD bersama Bupati Barito Timur dan Wakil Bupati Barito Timur Adi Mula Nakalelu, jajaran Forkopimda dan Komandan Yonif TP 924/Uria Mapas meninjau Posko Terpadu Penanggulangan Karhutla di halaman Kantor Bupati Barito Timur. Peninjauan dilakukan untuk melihat kesiapan unsur yang terlibat dalam menghadapi ancaman kebakaran di wilayah tersebut.
Kegiatan sosialisasi kemudian diawali sambutan Bupati Barito Timur M. Yamin, dilanjutkan arahan Ketua Tim Sosialisasi Pencegahan Karhutla Mabes TNI AD Brigjen TNI Zulkifli.
Dalam paparannya, tim menekankan bahwa keberhasilan pencegahan Karhutla sangat ditentukan oleh tindakan sejak dini. Masyarakat tidak hanya menjadi penerima imbauan, tetapi memiliki peran langsung dalam menjaga lingkungan dan lahan masing-masing.

Salah satu pesan utama yang disampaikan adalah menghentikan praktik pembakaran lahan. Masyarakat didorong menggunakan metode pengelolaan lahan tanpa bakar, termasuk memanfaatkan bahan organik sebagai pupuk kompos.
Kapten Ismail menekankan pentingnya kewaspadaan terhadap sumber api yang sering dianggap sepele. Puntung rokok tidak boleh dibuang sembarangan, sementara api unggun harus dipastikan benar-benar padam dengan menyiramnya menggunakan air sebelum meninggalkan lokasi.
“Jangan sampai sumber api yang kecil berkembang menjadi kebakaran besar. Karena itu, pencegahan harus dimulai dari diri sendiri dan lingkungan sekitar,” ujar Ismail.
Selain mengendalikan sumber api, masyarakat juga diajak menjaga ketersediaan sumber air. Embung, kanal dan sumur desa perlu dirawat agar tetap dapat dimanfaatkan saat musim kemarau, terutama ketika terjadi kebakaran dan kebutuhan air untuk pemadaman meningkat.
Kecepatan pelaporan juga menjadi bagian penting dalam upaya pencegahan. Warga yang menemukan asap atau titik api diminta segera melaporkannya kepada petugas atau pihak terdekat. Dengan laporan lebih awal, penanganan dapat dilakukan sebelum api meluas.

Masyarakat juga didorong berpartisipasi dalam patroli lingkungan, termasuk melalui Masyarakat Peduli Api (MPA) dan kegiatan patroli di tingkat desa. Keterlibatan warga dinilai penting karena masyarakat merupakan pihak yang paling dekat dengan lingkungan dan lahan yang berpotensi terbakar.
Di sisi lain, faktor keselamatan tetap menjadi prioritas. Masyarakat diminta tidak memaksakan diri menangani kebakaran yang sudah membesar atau berada dalam kondisi berbahaya. Penanganan harus dilakukan oleh petugas dengan kemampuan dan peralatan yang memadai.
Sosialisasi tersebut juga menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor. Pemerintah daerah, TNI, Polri, perusahaan, pemerintah desa dan masyarakat memiliki peran masing-masing dalam mencegah sekaligus menangani Karhutla.

Dengan demikian, pencegahan tidak berhenti pada larangan membakar lahan. Tindakan nyata yang diharapkan adalah tidak membuka lahan dengan cara membakar, menjaga sumber api, merawat sumber air, ikut melakukan pengawasan lingkungan, serta segera melaporkan apabila menemukan titik asap atau kebakaran.
Setelah pemaparan, kegiatan dilanjutkan dengan sesi tanya jawab dan diskusi. Forum ini menjadi ruang bagi pemerintah daerah, aparat, perusahaan dan unsur masyarakat untuk memperkuat langkah bersama menghadapi ancaman Karhutla di Barito Timur.
Kegiatan ditutup dengan foto bersama. Sosialisasi Mabes TNI AD tersebut diharapkan semakin memperkuat kesiapsiagaan sekaligus membangun kesadaran bahwa pencegahan Karhutla merupakan tanggung jawab bersama, dengan masyarakat sebagai salah satu garda terdepan dalam mencegah api muncul dan meluas.(sul/fre/har)

![]()
